Mengenal Tradisi Tumplak Wajik di Jogja, Apakah Itu?

Jogja memang tidak pernah kehabisan tradisi yang menarik untuk dikenal dan dipelajari. Salah satu yang paling unik dan masih lestari hingga hari ini adalah tradisi tumplak wajik, sebuah upacara adat yang sarat makna dan selalu berhasil menyedot perhatian banyak orang setiap kali digelar. 

Bagi yang belum pernah mendengar namanya, artikel ini akan mengajak Anda mengenalnya lebih dekat. Siapa tahu, setelah membacanya Anda justru semakin penasaran dan ingin menyaksikannya langsung! 

Tradisi tumplak wajik bukan sekadar ritual biasa. Di balik prosesinya yang sederhana tersimpan nilai-nilai budaya, spiritual, dan sosial yang sangat dalam, ini mencerminkan betapa kayanya warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat Jogja dari generasi ke generasi hingga sekarang.

Mengenal Tradisi Tumplak Wajik

Mengenal tradisi tumplak wajik di Jogja, Sumber: ceritajogja.com
Mengenal tradisi tumplak wajik di Jogja, Sumber: ceritajogja.com

Tumplak wajik adalah upacara adat yang digelar oleh Keraton Yogyakarta sebagai penanda dimulainya rangkaian acara Grebeg Syawal. Pelaksanaannya dilakukan dua hari sebelum Grebeg Syawal digelar, tepatnya pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB di halaman Magangan Keraton Yogyakarta. 

Bagi masyarakat Jogja, upacara ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Lebaran yang mereka nantikan setiap tahunnya. Kehadirannya setiap tahun selalu disambut antusias, baik oleh warga setempat maupun wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan langsung keindahan tradisi ini. 

Seperti namanya, inti dari tradisi tumplak wajik adalah proses menata wajik, olahan makanan dari beras ketan yang legit untuk kemudian dijadikan landasan gunungan yang akan dibuat. Wajik yang sudah ditata rapi ke dalam wadah besar kemudian dibalikkan oleh Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dalam sebuah prosesi yang khidmat dan penuh nuansa budaya.

Upacara ini dimulai dengan kesenian gejog lesung yang dimainkan oleh delapan orang abdi dalem kepercayaan keraton. Suara lesung yang berirama khas mengiringi seluruh proses penataan wajik dari awal hingga selesai, menciptakan atmosfer yang sangat kental dengan nuansa Jawa yang hangat dan magis. 

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Abdi Dalem Kaji, sebelum akhirnya Abdi Dalem Konco Abang memapah wajik tersebut menuju ke kerangka gunungan putri. Setiap langkah dalam prosesi ini mencerminkan betapa dalam penghormatan masyarakat Jogja terhadap tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka. 

Satu hal yang menjadi daya tarik tersendiri adalah prosesi pengolesan dlingo bengle, atau parutan empon-empon berwarna kuning yang dilakukan oleh Abdi Dalem Perempuan. Warga yang menyaksikan upacara dari luar biasanya berebut meminta dlingo bengle ini karena dipercaya membawa berkah dan kebahagiaan bagi siapa pun yang mendapatkannya.

Tujuan Tradisi Tumplak Wajik Digelar

Upacara yang menandai dimulainya Grebeg Syawal, Sumber: kompas.com
Upacara yang menandai dimulainya Grebeg Syawal, Sumber: kompas.com

Setiap tradisi yang masih dipertahankan hingga kini selalu memiliki tujuan dan alasan yang kuat di baliknya. Tradisi tumplak wajik pun demikian. Tujuan utama digelarnya upacara ini adalah sebagai permohonan agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan senantiasa diberikan keselamatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Selain itu, upacara ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat persatuan dan kebersamaan di antara warga. Prosesi menyusun wajik dan memainkan gejog lesung harus dilakukan bersama-sama, sebuah pengingat bahwa banyak hal dalam hidup hanya bisa diselesaikan dengan gotong royong dan kerja sama yang tulus. 

Tradisi ini juga sekaligus menjadi simbol berlimpahnya hasil bumi di wilayah Yogyakarta yang patut disyukuri bersama. Karena inilah tumplak wajik selalu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan dari luar daerah yang ingin merasakan pengalaman budaya Jogja yang paling autentik dan berkesan. 

Tidak kalah penting, pelaksanaan tumplak wajik juga menjadi upaya nyata untuk melestarikan warisan budaya leluhur. Di tengah arus modernisasi, keberadaan tradisi seperti ini adalah jangkar budaya yang menjaga identitas masyarakat Jogja tetap kuat dan tidak kehilangan akarnya. 

Kawasan alun-alun kidul Jogja yang tidak jauh dari Keraton sering menjadi area yang ikut hidup dan ramai saat rangkaian upacara adat keraton digelar.

Makna Mendalam di Balik Tradisi Tumplak Wajik

Tradisi yang masih bertahan di Jogja, Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com
Tradisi yang masih bertahan di Jogja, Sumber: jogjapolitan.harianjogja.com

Masyarakat Jawa memang dikenal sangat kaya dalam hal pemaknaan terhadap setiap tradisi yang mereka jalankan. Tumplak wajik pun tidak luput dari filosofi yang dalam dan penuh nilai. Wajik sebagai makanan utama dalam prosesi ini dipandang bukan sekadar makanan biasa, ia adalah simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan keeratan hubungan antar manusia.

Sifat wajik yang lengket dan menempel satu sama lain ketika dipegang dengan tangan melambangkan keeratan dan kebersamaan yang seharusnya selalu dijaga oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah filosofi yang sangat sederhana namun sarat makna dan relevan sepanjang zaman, tidak peduli seberapa banyak hal berubah di sekitarnya.

Lima gunungan yang menjadi bagian dari rangkaian upacara ini, gunungan gepak, gunungan putri, gunungan putra, gunungan pawuhan, dan gunungan darat semuanya didoakan dalam prosesi yang khidmat. Doa yang dipanjatkan mencakup dua aspek utama, permohonan keselamatan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi tumplak wajik tidak bisa dilepaskan dari konteks tata ruang Keraton Yogyakarta yang penuh makna filosofis. Keraton sebagai pusat budaya dan spiritual Jogja memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini dari masa ke masa. 

Pemahaman tentang Sumbu Kosmologis Yogyakarta akan semakin memperkaya pemahaman Anda tentang betapa terencana dan bermakna setiap tradisi yang lahir dari lingkungan keraton ini. Setiap upacara, setiap prosesi, bahkan setiap lokasi pelaksanaannya merupakan bagian dari satu sistem nilai dan filosofi Jawa sejak berabad-abad lalu. 

Tradisi tumplak wajik adalah salah satu bukti nyata betapa kayanya warisan budaya yang dimiliki oleh Yogyakarta. Di balik prosesinya yang terlihat sederhana, tersimpan nilai-nilai luhur tentang kebersamaan, rasa syukur, dan harapan yang terus relevan dari generasi ke generasi.

Jika Anda berkesempatan berada di Jogja menjelang Lebaran, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung tradisi tumplak wajik ini. Pengalaman melihat prosesinya secara langsung, mendengar suara gejog lesung yang khas, dan merasakan atmosfer budaya keraton yang kental adalah sesuatu yang tidak akan mudah terlupakan.

Tinggalkan komentar